Ikan Koi

Operasi Pengangkatan Tumor pada Koi

Operasi pada koi tidak lazim dilakukan, namun bukan berarti tidak dapat dilaksanakan. Belum lama ini drh. Handi berhasil melakukannya, dan beliau dengan senang hati berbagi kisahnya dengan pembaca KOl’s magazine.

Hal paling utama yang harus dipertimbangkan adalah:

  1. Tindakan operasi hanya dapat dilakukan oleh tenaga ahli, atau dokter hewan yang mempunyai pengalaman cukup.
  2. Risiko tindakan operasi pada koi termasuk tinggi, dan dapat berakibat kematian. Risiko lainnya adalah terjadi perubahan anatomi atau bentuk tubuh pada koi.

Tumor merupakan sel atau jaringan yang bermutasi dan mengalami proliferasi. Tingkat keganasan tumor dapat dilihat secara histologi dengan melihat jenis sel pada jaringan tumor. Baik dealer, breeder, dan penghobi tentu sudah tidak asing dengan penyakit tumor pada koi. Metode pengobatan pada koi yang mengalami tumor yaitu melalui tindakan bedah atau operasi. Walaupun metode ini masih tidak lazim digunakan dalam dunia koi, namun tindakan bedah atau operasi merupakan satu-satunya treatment atau solusi bagi ikan yang terjangkit tumor.

Faktor Penyebab Tumor

Faktor utama penyebab tumor pada koi yaitu genetik atau bakat bawaan, penggunaan obat-obatan atau senyawa kimia yang bersifat karsinogenik secara berlebihan, virus. Paparan radiasi dan sinar UV berlebih dapat merusak susunan DNA jaringan sehingga terjadi pertumbuhan jaringan secara abnormal. Untuk mengetahui penyebab pasti dari masing-masing individu diperlukan alat penunjang dan investigasi yang panjang.

Diagnosa

Keberadaan tumor pada koi dapat terdeteksi dari abnormalitas bentuk tubuh, kemudian untuk menunjang diagnosa sebaiknya dilakukan x-ray atau USG.

Pra-Operasi

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipersiapkan sebelum melakukan operasi yaitu kondisi ikan, obat anestesi yang digunakan, meja operasi. Peralatan bedah, dan recovery tank. Sebelum melakukan tindakan operasi pastikan ikan dalam kondisi fit sehingga survival rate saat ikan berada di meja operasi lebih tinggi.

Pemilihan jenis obat anestesi yang digunakan merupakan hal yang vital dan krusial dalam melakukan tindakan bedah atau operasi. Obat anestesi harus memiliki kemampuan untuk membuat ikan berada pada stadium yang cukup dalam agar tidak merasakan sakit selama tindakan operasi, namun tidak sampai membuat ikan mengalami kegagalan respirasi dan cardiac arrest [overdosis]. Dokter atau operator harus membuat dua macam larutan bius yaitu larutan dengan dosis induksi dan dosis maintenance. Dosis induksi dibutuhkan untuk membuat ikan yang berada dalam posisi sadar untuk masuk ke stadium anestesi atau terbius sedangkan dosis maintenance yaitu dosis yang diperlukan untuk membuat ikan yang sedang dalam stadium anestesi agar tetap dalam kondisi atau stadium yang sama selama dilakukan tindakan bedah.

Posisi ikan pada saat dilakukan tindakan bedah dapat berupa rebah dorsal atau rebah lateral tergantung letak dari jaringan tumor. Hal ini yang akan menentukan bentuk dari meja operasi yang harus disiapkan agar posisi ikan terfiksasi selama dilakukan tindakan bedah, Peralatan bedah yang diperlukan yaitu pinset, gunting, needle holder, scalpel blade, dan artery forceps. Seluruh peralatan bedah harus disterilisasi sebelum digunakan untuk tindakan operasi. Benang yang digunakan sebaiknya bersifat non-absorbable monofilament. Benang ini tidak akan menyatu menjadi jaringan kulit, sehingga dalam waktu 2-3 minggu, benang harus dilepas. Recovery tank berisi air segar yang diaerasi harus disiapkan sebelum tindakan operasi.

Operasi

Setelah seluruh peralatan sudah disiapkan, maka ikan dibius di dalam plastik atau wadah khusus. Sebelum ikan diangkat ke meja operasi, dokter atau operator harus memastikan ikan sudah berada dalam stadium surgical anaesthesia. Ciri-ciri ikan sudah berada dalam stadium ini yaitu ikan kehilangan keseimbangan, gerakan operkulum melambat, dan ikan sudah kehilangan refleks terhadap rasa nyeri atau sakit. Untuk menentukan posisi rebah ikan selama operasi, dokter atau operator harus memastikan lokasi insisi [sayatan] yang memudahkan dalam proses pengangkatan tumor.

Setelah membuat luka sayatan pada kulit dan jaringan tumor terekspos, maka dokter atau operator harus menemukan pembuluh darah yang menyuplai jaringan tumor. Untuk menghindari pendarahan hebat, maka pembuluh darah tersebut harus diligasi terlebih dahulu sebelum jaringan tumor diangkat. Setelah jaringan tumor diangkat, maka luka sayatan ditutup dengan teknik jahitan simple interrupted. ikan kemudian dipindahkan ke recovery tank.

Post Operation

Perawatan post operation merupakan hal yang sangat penting dan perlu perhatian khusus, bila treatment tidak tepat maka kesembuhan luka akan terhambat bahkan menyebabkan stress dan kematian pada ikan. Adanya luka sayatan pada permukaan tubuh ikan akan menyebabkan ketidakseimbangan osmotik pada ikan sehingga mekanisme osmoregulasi ikan akan terganggu, oleh sebab itu pemberian garam pada bak atau kolam perawatan sangatlah penting. Selain itu, ikan perlu diberikan treatment antibiotik, pain killer, dan vitamin. Antibiotik digunakan untuk mencegah masuknya infeksi bakteri melalui luka sayatan. Pemberian pain killer digunakan untuk mengurangi tingkat stres ikan yang pasti akan merasakan nyeri dan sakit setelah tindakan bedah. Vitamin diberikan sebagai treatment suportif untuk memacu pertumbuhan sel baru sehingga proses kesembuhan luka dapat terjadi lebih cepat.

Beberapa risiko yang mungkin terjadi saat tindakan operasi yaitu ikan mati saat tindakan akibat obat bius, kehabisan darah, dan penyebab lain selama ikan berada di meja operasi. Ikan yang selamat dari tindakan operasi belum tentu akan sembuh, resiko kematian pada fase post operation juga perlu disadari. Risiko lainnya yaitu ada kemungkinan pada ikan yang sudah benar-benar sembuh bentuk tubuhnya tidak akan sebaik kondisinya semula.

Tindakan operasi memang masih sangat tidak lazim di dunia koi, namun bukan berarti tidak dapat dilakukan. Sebelum melakukan tindakan bedah atau operasi, sebaiknya pemilik ikan memahami risiko-risiko yang mungkin terjadi. Selain itu, ikan dengan riwayat tumor sebaiknya tidak dijadikan indukan oleh pemilik karena faktor genetik menjadi salah satu penyebab dari penyakit ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *