Ikan Koi

Nutrisi Untuk Ikan Koi

Nutrisi Makro dan Nutrisi Mikro

Pada kemasan pakan koi yang beredar di pasaran, umumnya mencantumkan kandungan nutrisi, dan itulah yang menjadi pegangan kita untuk memilih pakan yang baik. Analisis kandungan nutrisi, mencantumkan antara lain protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.

Nutrisi menurut kebutuhannya terbagi menjadi dua, yaitu macronutrient dan micronutrient. Macronutrient merupakan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh ikan dalam jumlah yang besar seperti protein, karbohidrat dan lemak. Sedangkan micronutrient merupakan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh ikan dengan jumlah yang lebih sedikit seperti vitamin dan mineral.

 

Protein dan Asam Amino

Protein merupakan kandungan nutrisi yang paling penting untuk ikan koi, karena berfungsi sebagai salah satu sumber energi utama. Protein yang dikonsumsi akan dicerna dan melepaskan asam amino yang kemudian akan diserap oleh usus dan diedarkan oleh darah ke seluruh organ dan jaringan tubuh ikan. Asam amino terbagi menjadi dua jenis yaitu asam amino esensial dan asam amino non-esensial.

Asam amino esensial sangat penting dan dibutuhkan oleh ikan koi, namun tidak dapat dihasilkan sendiri oleh tubuhnya. Sedangkan asam amino non-esensial merupakan asam amino yang dapat dihasilkan sendiri oleh tubuh ikan.

Di alam liar, ikan karper bisa mendapatkan asam amino esensial dari pakan alami. Sedangkan untuk pakan buatan, asam amino essential harus dengan sengaja ditambahkan kedalam formula nya. Disinilah kita mempunyai masalah dalam hal memilih palet pakan koi karena Sebagian besar hanya mencantumkan kandungan protein tanpa menyebutkan asam amino pada analisisnya. Penulis melakukan riset dengan membawa sampel pakan koi ke laboratorium, dan menemukan bahwa pakan premium seperti konishi (yang asli) benar-benar mengandung asam amino esensial.

Asam amino esensial terdiri dari arginine, histidine, isoleucine, leucine. Lysine, methionine, phenylalanie, threonine, tryptophan, dan valine. Masing-masing memiliki fungsi tersendiri, seperti meningkatkan resistensi terhadap penyakit, meninggalkan fungsi pencernaan, meningkatkan imun dan masih banyak lagi fungsi penting lainnya (Andersen et all, 2016). Maka dari itu kurangnya asupan protein dan asam amino esensial tentu saja akan menggangu pertumbuhan.

Seperti yang sudah kita ketahui, ikan koi merupakan binatang omnivore yang artinya dia dapat mengkonsumsi pakan yang bersumber dari hewan maupun tumbuhan. Ikan omnivore seperti ikan koi, sebenarnya tidak memerlukan kadar protein yang terlalu tinggi apabila kita bandingkan dengan ikan air laut yang tubuhnya dapat mencerna protein, karbohidrat dan lemak untuk dijadikan energi.apabila ikan mendapatkan asupan protein yang terlalu banyak, Sebagian protein akan digunakan untuk fungsi vital tubuh ikan. Dan sisanya hanya akan diubah menjadi energi.

Untuk ikan koi, protein yang dibutuhkan hanya 35% (Wilson, 2002). Kebutuhan protein biasanya lebih tinggi pada siklus awal hidup koi. Semakin bertambahnya usia, kebutuhan protein koi akan semakin menurun. Kebutuhan protein juga dipengaruhi oleh fakrtor lingkungan, suhu air, kualitas air, dan frekuensi pemberian pakan (Craig, 2017).

 

Karbohidrat

Terhadap karbohidrat, ikan koi tidak memerlukan kebutuhan yang spesifik. Karbohidrat akan disimpan dalam bentuk glikogen dan dapat juga digunakan untuk sumber energi. Pada mamalia, karbohidrat meruoakan sumber energi utama, namun tidak demikian pada ikan. Mamalia dapat menghasilkan 4 kalori energi sari 1 gram karbohidrat, sementara ikan hanya dapat menghasilkan 1.6 kalori energi dari jumlah karbohidrat yang sama. Karena ikan koi hanya dapat mentoleransi karbohodrat sebesar maksimal 20%. Tidak disarankan untuk memberi makan ikan koi dengan kandungan karbohidrat lebih dari 20%. Ikan koi tidak dapat mencerna karbohidrat polisakarida, seperti nasi.

 

Lemak

Macronutrient yang tidak kalah pentingnya adalah lemak. Disamping berfungsi sebagai bentuk energi untuk ikan, lemak juga menyajikan asam lemak esensial yang  dibutuhkan untuk pertumbuhan. Lemak akan digunakan oleh tubuh ikan untuk memicu hormon steroid dan prostaglandin yang membuat usus ikan dapat menyerap vitamin dengan lebih baik (Santos et all, 2009).

 

Mineral

Selain macronutrient seoerti yang sudah disebutkan diatas, ada peran penting micronutrient dalam nutrisi pakan ikan koi, yang salah satunya adalah mineral.

Ikan membutuhkan kandungan mineral yang sama seperti hewan yang ada di darat untuk pembentukan jaringan, osmoregulasi dan fungsi metabolisme lainnya. Mineral yang terlarut dalam air biasanya sudah memenuhi kebutuhan mineral pada ikan. Walau bagaimanapun, ada mineral yang biasanya tidak ada dalam air sehingga perlu ditambahkan ke dalam pakan.

Mineral berdasarkan jumlah kebutuhannya dalam pakan dibag menjadi dua, macromineral dan micromineral. Macromineral misalnya kalsium, phosphorus, magnesium, chloride, sodium, potassium dan sulfur. Macromineral paling penting yang harus ada dalam pakan ikan sehari-hari adalah phosphorus, karena phosphorus inilah yang paling jarang ditemukan dalam air.

Sedangkan micromineral terdiri dari cobalt, chromium, cuprum (copper), iodine, zat besi (iron), mangaan, selenium dan zinc. Micromineral yang harus ada dalam pakan ikan koi anda adalah cuprum (copper), zat besi (iron), mangaan, selenium dan zinc karena biasanya zat-zat tersebut ada dalam kadar yang rendah di dalam air (Gatlin, 2010).

 

Vitamin

Terdapat dua jenis vitamin dlam nutrisi pakan ikan koi, yaitu fat-soluble vitamin (vitamin yang larut dalam lemak) dan water-soluble vitamin (vitamin yang larut dalam air). Fat-soluble biasanya sudah dapat dihasilkan sendiri oleh ikan koi sehingga tidak terlalu butuh untuk ditambahkan ke dalam oakan koi. Namun penambahan dengan kadar tertentu dapat meningkatkan fungsi pembekuan darah, antioxidan biologis, dan fungsi penglihatan. Fat-soluble vitamin terdiri dari vitamin A, D, E dan K.

Sedangkan water soluble vitamin merupakan vitamin yang tidak dapat dihasilkan sendiri oleh tubuh ikan sehingga menjadi penting keberadaannya di dalam pakan ikan koi anda. Water-soluble vitamin terdiri dari vitamin B1, B2, B6, B12, dan vitamin C (Gatlin, 2010)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *